angger

Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laporan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Oktober 2015

Laporan Sinkronik Hindu-Budha di Indonesia


A.    PENDAHULUAN
Assalamu’alaikum wr wb
Segala puji bagi alloh tuhan semesta alam yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga kami kelompok 1 dapat menyelesaikan tugas sejarah “ Sinkronik Hindu-Budha” . tugas sejarah ini kami susun dalam rangka menjalankan tugas serta menambah pengetahuan dan wawasan kita mengenai perkembangan zaman hHindu Budha di Indonesia pada masa lampau.
Kami dengan terbuka selalu menerima kritik dan saran dari para pembaca semuanya. Demi kemajuan dan kebaikan tugas kami. Kami selaku penyusun dari kelompok 1 selalu terbuka dalam hal apapun. Kami juga meminta maaf apabila dalam penyusunan tugas ini banyak melakukan kesalahan. Dan kurang sempurna dalam tugas ini. Terimakasih…

B.     ISI
a.      Proses Masuk dan Berkembangnya Pengaruh Hindu Budha di Indonesia
Pengaruh agama dan budaya Budha diperkirakan masuk ke Indonesia sekitar abad ke 2  sampai ke 5 M, dan pertama kali masuk ke Kalimantan Timur. Agama dan kebudayaan Hindu di Indonesia kemudian berkembang ke berbagai daerah dan muncullah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu, seerti Kerajaan Holing, Mataram Kuno (Hindu), Medang Kamulan, Kediri, Singasari, Majapahit, Sunda dan Bali. Sedangkan pengaruh agama dan budaya Hindu  menyusul kemudian sekitar awal abad ke 5, pertama kalinya berada di Sumatera, yaitu Kerajaan Sriwijaya, dan daerah lain yaitu di Sempaga (Sulawesi), di Jember (Jawa Timur), dan Bukit Siguntang (SumSel).
Masuknya pengaruh Hindu Budha tersebut melalui 2 jalur, yaitu :
1.      Jalur Laut
Yang melewati jalur laut  mengikuti rombongan kapal-kapal para pedagang yang biasa berlalulalang dalam kegiatan perlayaran dari Asia selatan ke Asia Timur. Rute perjalanan para penyebar agama dan budaya Hindu Budha yaitu dari India menuju Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya, Indonesia, Kamboja, Vietnam, China, Korea, dan jepang. Ada juga yang langsung berlayar ke Indonesia  terutama pada saat berlangsungnya angin muson barat.
2.      Jalur Darat
Yang melewati jalur barat dilakukan dengan menumpang kepada para kafilah yang melalui jalur jalan sutra, yaitu dari India terus ke Tibet terus ke utara hingga sampai di China, Korea, dan Jepang. Tetapi ada juga yang melakukan perjalanan dari India Utara ke Bangladesh, Myanmar, Thailand, Semenanjung Malaya kemudian berlayar ke Indonesia.
Ada beberapa teori tentang proses masuknya pengaruh Hindu Budha ke Indonesia yaitu sebagai berikut :
1.      Teori Brahmana  yang dikemukakan oleh J.C. Van Leur.
·         Para brahmana mendapat undangan dari para penguasa Nusantara untuk menobatkan raja dan memimpin upacara-upacara keagamaan.
2.      Teori Ksatria yang dikemukakan oleh F.D.K. Bosch.
·         Dipaparkan bahwa di India pada zaman dahulu sering terjadi peperangan antara golongan dalam masyarakat.
·         Para prajurit yang kalah perang kemudian meninggalkan India sehingga ada yang sampai ke Indoneisa dan mendirikan koloni-koloni baru dan menyebarkan agama Hindu Budha
3.      Teori Waisya yang dikemukakan oleh N.J Krom
dalam teori ini yang menyebarkan agama dan budaya Hindu Budha adalah para pedagang yang memiliki banyak hubungan dengan para pengusaha beserta rakyatnya.
4.      Teori Sudra yang dikemukakan oleh Von Van Faber
Terjadinya peperangan di India menyebabkan golongan Sudra menjadi orang buangan yang kemudian minggalkan India dengan mengikuti kaum Waisya. Dengan jumlah yang besar diduga golongan Sudra ini yang berperan besar dalam persebaran agama dan budaya Hindu Budha.
5.      Teori Arus Balik
Menurut teori ini banyak pemuda Indonesia yang belajar agama Hindu Budha ke India dan mendirikan organisasi yang disebut Sanggha. Sesudah memperoleh ilmu yang banyak kemudian kembali ke Indoensia untuk menyebarkannya.
b.      Pengaruh Hindu Budha terhadap Budaya Indonesia
1.      Bidang Bahasa
Dibuktikan bahwa bahasa Sansekerta maupun bahasa Dewanagari di Indonesia. Prasasti-prasasti yang ditemukan di Kalimantan Timur maupun Jawa Barat menggunakan bahasa tersebut.
2.      Bidang Agama
Menyebabkan agama Hindu Budha di Indonesia, bahkan agama Hindu Budha diakui secara sah oleh Negara.
3.      Bidang Politik dan Pemerintahan.
Dibuktikan dengan munculnya kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia seperti kerajaan Kutai, Tarumanegara, Mataram Lama, Sriwijaya, Majapahit, dan sebagainya.
4.      Bidang Seni Bangunan.
Dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan keagamaan yang bercorak Hindu Budha seperti canti, arca dan stupa.
5.      Bidang Sastra.
Dibuktikan dengan banyaknya kitab sastra yang bercorak Hindu Budha yang ada di Indonesia. Kitab sastra yang bercorak Hindu seperti kitab Ramayana, Mahabarata, Arjunawijaya, Gatotkacasraya, dan Kresnayana. Yang bercorak Budha seperti kitab Sang Hyang Kamahayanikan.
c.       Perkembangan Kerajaan-kerajaan Hindu Budha di Indonesia
1.      Kerjaan Kutai
a.       Letak Kerjaan
Terletak di sekitar tepi lairan sungai mahakan, Kalimantan Timur.
b.      Sumber sejarah
Sumber sejarah kerajaan kutai adalah ditemukannya prasasti yang berbentuk Yupa, berjumlah 7 buah yang ditemukan di tepi sungai Mahakam.
Berdasarkan prasasti, pendiri kerajaan kutai adalah Kudungga. Kudungga mempunyai putera bernama Aswawarman. Ketika Aswawarman naik tahta, ia dinobatkan dengan cara Hindu. Aswawarman mempunyai tiga orang putera, diantaranya yang telah terkenal adalah Mulawarman yang menjadi raja terbesar kerajaan Kutai.
2.      Kerajaan Tarumanegara
Pada abad ke 5 M di Jawa Barat berdiri Kerajaan Tarumanegara. Raja yang memerintah adalah Purnawarman. Keterangan tentang Kerajaan Tarumanegara dapat diketahui dari :
1.      Tujuh buah prasasti, yaitu Prasasti Tugu (Tanjung Priok-Jakarta), prasasti Kebon Kopi, Prasasti Ciaruteun di tepi sungai Ciaruteun, Prasasti Jambu atau Prasasti Pasir Koleangkak, Prasasti Pasir Awi, dan Prasasti Muara Cianten (Bogor)  serta Prasasti Lebak (Banten Selatan)
2.      Berita dari China, yakni catatan perjalanan Musafir china yang bernama Fa Hien. Dalam catatannya Fa Hien menerangkan ketika pulang dari India kapalnya terkena badai dan terdampar di Tarumanegara (414 M). rakyat Tarumanegara belum banyak yang menganut agama Budha.
3.      Kerajaan Sriwijaya
      Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya yaitu Prasasti Kedudukan Bukit (Palembang, 605 M), Prasasti Talang Tuo (Palembang, 684 M), Prasasti Telaga Batu (sekitar Palembang, tidak berangka tahun), Prasasti Kota Kapur dan Prasasti Karang Berahi (Pulau Bangka dan Jambi, 686 M), Prasasti Pallas Paasemah (Lampung, abad 7 M), Prasasti Nalanda (India), dan Prasasti Ligor (Semenanjung Malaysia-Thailand), dan berita Cina & Persia yang dapat dijadikan sumber keberadaan Kerajaan Sriwijaya, yakni catatan Dinasti Tang dan Catatan I-tsing. Sementara berita dari Persia merupakan catatan Raihan al Biruni, seorang ahli geografi dari Persia.
4.      Kerajaan Mataram Kuno ( Hindhu- Budha)
      Pada abad ke-8 M di Jawa Tengah bagian selatan berdiri Kerajaan MAtaram Kuno (Hindu). Sumbernya adalah prasasti Canggal, di gunung Wukir sebelah barat kota Magelang berangka tahun 732 M dengan menggunakan huruf Pallawa berbahasa Sanskerta. Isinya yaitu Raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga di bukit Kunjara kunja”. Disebutkan bahwa Mataram Kuno diperintah oleh Raja Sanna seorang raja yang bijaksana dan penuh kasih. Setelah meninggal, Sanna digantikan oleh Sanjaya. Pada masa pemerintahan Sanjaya, rakyat MAtaram hidup makmur, aman, dan tenteram.
         Pengganti Sanjaya adalah Raja Panangkaran dan mempunyai dua orang anak yakni Rakai Panunggalan dan Daranindra. Setelah RAkai PAnunggalan meninggal Mataram Kuno terpecah menjadi dua, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra.
5.      Kerajaan Medang Kamulan
Kerajaan MEdang Kamulan terletak di Jawa Timur; merupakan kelanjutan dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Meskipun demikian, Kerajaan Medang Kamulan merupakan kerajaan tersendiri karena diperintah oleh Dinasti Isana. Sumber sejarah kerajaan ini adalah Prasasti Mpu Sendok dan Prasasti Kalkuta. Prasasti Mpu Sendok berisi sejumlah tindakan Mpu Sendok selama pemerintahannya. Sedangkan, prasasti Kalkuta menerangkan silsilah Dinasti Isana sampai masa pemerintahan Airlangga.
6.      Kerajaan Kediri
Dalam persainagan antara PAnjalu dengan Kediri, Kediri unggul dan menjadi Negara yang besar kekuasaannya. Raja terbesar dari kerajaan Kediri adalah Jayabaya (1135-1157). Pada masa pemerintahannya, kesusasteraan sangat diperhatikan. Mpu Sedah dan Mpu Panuluh mengubah karya sastra Kitab Bharatayudha yang menggambarkan peperangan antara PAndawa melawan Kurawa. Empu panuluh juga mengubah kakawih hari wangsa dan gatotkacasraya. Jayabaya juga dikenal sebagai pujangga yang ahli meramal kejadian masa depan, terutama yang akan menimpa tanah jawa ramalannya dikenal dengan jangka jaya baya.
Raja Kediri yang juga memperhatikan kesusastraan ialah kameswara . mpu tan akum menulis kitab wartasancaya dan lubdaka, seadngkan empu darmaja menulis kitab kakawin smaradahana. Didalam kitab smaradahana ini, kameswara dipuji-puji sebagai titisan kumajaya dengan permaisurinya ialah sri kirana atau putrid candra kirana.
Raja Kediri yang terkahir ialah kerta jaya. Tahun 1222, kekuaasaanya dihancurkan oleh ken arok, dengan demikina berakhirlah kerajaan Kediri dan muncul kerajaan singasari.
7.      Kerajaan Singasari
Keterangan mengenai kerajaan singasari dapat diketahui dari berbagai sumber berikut:
1.      Kitab pararaton, yang isinya menceritakan tentang riwayat raja-raja singasari
2.      Kitab negarakertagama, yang isinya memuat silsilah raja-raja majapahit yang mempunyai hubungan erat dengan raja-raja singasari
3.      Berit cina, yang menyatakan bahwa kaisar kublaikhan mengirim pasukan untuk menundukan singasari
4.      Peninggalan berupa bangunan candi yang merupakan makam raja-raja singasari, seperti candi singasari, candi kidal,candi jawi, dan candi jago
8.      Kerajaan Majapahit
            Sumber sejarah tentang kerajaan majapahit diantaranya kitab pararaton, kitab sutasoma karangan empu tantular, kitab negarakertagama karangan mpu prapanca, bangunan candi dan reruntuhan istana.
1.      Kitab pararaton, isinya menceritakan peristiwa raja-raja singasari dan majapahit
2.      Kitab negarakertagama, isinya menceritakan keaadaan majapahit terutama masa kejayaan, yakni masa pemerintahan hayam wuruk
3.      Kitab sutasoma, menceritakan sutasoma, seorang anak raja yang menjadi pendeta budha. Ia bersedia mengorbankan dirinya untuk kepentingan orang lain
4.      Peninggalan berupa bangunan candi dan reruntuhan istana ditrowulan.

c.    Peninggalan-peninggalan Sejarah Bercorak Hindu-Budha di Berbagai Daerah
Di Indonesia banyak ditemukan bekas-bekas peninggalan sejarah kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha banyak di temukan di Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Masuknya Hindu-Budha telah mengubah dan menambah khasanah budaya Indonesia dalam berbagai aspek kehidupan. Peninggalan-peninggalan yang bercorak Hindu-Budha yaitu :
a.       Agama
b.      Candi
c.       Stupa
d.      Arca
e.       Gapura
f.       Relief
g.      Karya sastra

C.    PENUTUP
Kesimpulan
Dari hasil laporan tugas Sejarah “ Sinkronik Hindu-Budha “ kami dapat menyimpulkan bahwa sejarah Hindu-Budha di Indonesia pada masa lampau sangat menarik untuk kami pelajari. Baik dari sisi sinkronik maupun diakronik nya. Dan kami dapat belajar  lebih mengenai sejarah Hindu - Budha pada masa lampau untuk kita amati akibatnya dengan masa sekarang.
Selain itu, kami dapat belajar lebih serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan lebih untuk diri kita yang bias kita tularkan kepada teman-temannya semua. Untuk lebih lengkapnya, kita bisa mempelajari Sinkronik Hindu-Budha dari berbagai sumber. Misalnya : buku maupun Internet.
Itu yang dapat kami simpulkan mengenai materi kami. Terima kasih

D.    DAFTAR PUSTAKA
Agung, Leo. 2009. IPS Terpadu untuk SMP / MTs kelas VII. Jakarta : Penerbit Erlangga
MGMP IPS SE Kab. Banyumas. IPS Kelas VII. Banyumas

Laporan Manisan Kolang-Kaling

BAB I PENDAHULUAN
      
I.   LATAR BELAKANG MASALAH
            Manisan buah  adalah buah-buahan yang direndam dalam larutan gula selama beberapa waktu. Manisan biasanya dimakan sebagai hidangan pelengkap untuk merangsang nafsu makan. Teknologi membuat manisan merupakan salah satu cara pengawetan makanan yang sudah diterapkan sejak dahulu kala. Perendamanan manisan akan membuat kadar gula dalam buah meningkat dan kadar airnya berkurang. Keadaan ini akan menghambat pertumbuhan mikroba perusak sehingga manisan buah akan lebih tahan lama dan lebih awet.
            Manisan juga dibuat dengan alasan memperbaiki cita rasa buah yang tadinya masam menjadi manis .Setelah berkembang menjadi komoditas, manisan mulai diolah dan diproduksi dengan berbagai tambahan bahan –bahan yang membuat manisan itu menarik, seperti pemutihpengenyalpengering, atau gula buatan. Ada tiga jenis manisan, yaitu manisan basah, manisan kering, dan acar.
Pohon aren dapat berbuah , buahnya bergelantung di pohonnya. Bentuk buahnya bulat atau lonjong dengan ujungnya ke dalam. Jika buah aren yang belum terlalu matang dipotong akan terlihat bijinya yang kenyal berwarna bening.
Pada saat buah masih muda dengan kulit luarnya berwarna hijau, biji aren mempunyai tekstur yang lembek dan berwarna bening, kulitnya berwarna kuning dan tipis, bentuk bijinya lonjong biji muda inilah yang dinamakan kolang kaling.
Kolang kaling banyak digunakan sebagai bahan campuran beraneka jenis makanan atau minuman misalnya : manisan, kolak, ronde, roti, minuman kaleng, es campur dan bajigur. Sekarang muncul pula aneka produk makanan baru yang menggunakan kolang kaling sebagai bahannya seperti kolang kaling genji, kolang kaling mania, kolang kaling berjuruh. Kolang kaling selain dapat dimanfaatkan untuk bahan aneka makanan dan minuman, kandungan seratnya juga baik untuk kesehatan. Serat kolang kaling dan serat dari bahan makanan lain yang masuk ke dalam tubuh menyebabkan proses pembuangan air besar teratur sehingga dapat mencegah kegemukan atau obesitas.
Kolang-kaling yang berwarna putih kenyal seperti agar-agar banyak digunakan sebagai bahan campuran es buah (se campur), bajigur, sirup, kolak, manisan atau makanan ringan lainnya. Jika disimpan dalam waktu yang cukup lama kolang-kaling segar akan cepat berlendir, untuk pencegahannya dilakukan pernggantian air remdamnya. Akan tetapi untuk lebih memperpanjang masa simpannya dapat dilakukan peremdaman dengan air gula. Salah satu produk olahan dari Kolang-kaling ialah dengan cara pengawetan dalam air gula dikenal sebagai manisan kolang kaling, baik itu manisan yang basah maupun yang kering.
II. TUJUAN PENULISAN
-   Mengetahui cara pembuatan manisan kolang-kaling.
-   Mengamati mutu manisan pada secara organoleptik berdasarkan warna, aroma, rasa dan tekstur.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
       Kolang-kaling adalah endosperm biji buah aren yang berumur setengah masak setelah melalui        proses pengolahan. Setelah diolah menjadi kolang kaling, maka benda ini akan menjadi lunak, kenyal, dan berwarna agak bening. Kolang kaling merupakan komoditas untuk pembuatan makanan dan minuman yang sudah banyak kita kenal, misalnya: minuman ronde, kolak, atau dimasak dengan bumbu gula dan zat aroma serta diberi pewarna untuk dimakan langsung atau dirangkai dengan tusuk lidi seperti sate. Kolang kaling mempunyai nilai ekonomi karena sekarang ini masih banyak digemari orang.
            Pembuatan manisan buah terutama meliputi peresapan lambat dengan sirup sampai kadar gula di dalam jaringan cukup tinggi sehingga dapat mencegah pertumbuhan mikroba pembusuk. Proses pembuatan dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga buah tidak lunak dan menyerupai jam atau menjadi liat. Perlakuan buah-buahan dengan sirup berkadar gula yang menaik akan didapat hasil yang dikehendaki. Buah-buahan yang diawetkan dalam asam sulfit harus disegarkan kembali atau dicuci dalam air panas.
            Gula terlibat dalam pengawetan dan pembuatan aneka ragam produk-produk makanan. Beberapa diantaranya yang biasa dijumpai adalah termasuk selai, jeli, marmalade, sari buah, sirup buah-buahan, buah-buahan bergula, umbi dan kulit, buah-buahan beku dalam sirup, acar manis dan madu. Walaupun gula sendiri mampu untuk memeberi stabilitas mikroorganisme pada suatu produk makanan jika diberikan dalam konsentrasi yang cukup (diatas 70% padatan terlarut biasanya dibutuhkan), ini pun umum bagi gula untuk dipakai sebagai salah satu kombinasi dari teknik pengawetan bahan pangan. Kadar gula yang tinggi bersama dengan kadar asam yang tinggi, perlakuan dengan pasteurisasi secara pemanasan, penyimpanan dengan suhu rendah, dehidrasi dan bahan-bahan pe ngawet kimia (seperti asam benzoat) merupakan teknik-teknik pengawetan pangan yang penting.
         Pengeringan pada dasarnya bertujuan untuk mengeluarkan air dengan cara pemanasan sedemikian rupa, sampai mencapai kadar air tertentu. Dengan sangat terbatasnya kadar air, akan menyebabkan enzim-enzim tidak aktif dan mikroorganisme tidak dapat tumbuh. Pertumbuhan jasad mikroorganisme umumnya dapat dihambat dan dimatikan. Karena mikroorganisme seperti organisme hanya dapat hidup dan melangsungkan pertumbuhannya pada bahan dengan kadar air. tertentu. Proses pengeringan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu pengeringan alami dan pengeringan buatan. Proses pengeringan secara alami yaitu suatu proses kehilangan air yang disebabkan oleh kekuatan alam, seperti sinar matahari. Sementara pengeringan buatan yaitu proses kehilangan air dengan menggunakan alat-alat pengering.

BAB III METODOLOGI
I.        ALAT DAN BAHAN
1.    ALAT
ü  Pisau
ü  Panci
ü  Kompor
ü  Baskom
ü  Talenan
ü  Sendok Sup
2.    BAHAN
ü  Kolang-kaling (1 kg)
ü  Fanta (½ liter)
ü  Gula Pasir (¼ kg)
II.      CARA PEMBUATAN
1.    Siapkan bahan dan alat
2.    Cuci kolang-kaling hingga bersih
3.    Panaskan wajan, lalu masukan fanta, tunggu hingga mendidih
4.    Setelah mendidih, masukan Kolang-kaling, gula.
5.    Aduk hingga rata
6.    Jika air sudah mulai berkurang, angkat lalu diamkan  beberapa saat hingga mendingin
7.    Masukan ke mangkok / wadah
BAB IV ANALISA EKONOMI
       Dengan iuran per anak ± Rp. 5.500,-
Jumlah modal terkumpul Rp. 22.000,-
Pengeluaran :
v  Kolang-kaling        1 kg    : Rp.10.000,-
v  Gula            ¼ kg   : Rp. 2.500,-
v  Fanta          ½ liter         : Rp. 3.500,-
v  Cup + label           : Rp. 6.000,-          +
 
TOTAL             : Rp. 22.000,-



BAB V ANALISIS PENJUALAN
      
Dengan modal sebesar Rp. 22.000,- kami dapat membeli bahan-bahan untuk membuat manisan kolang-kaling. Dan kami dapat memproduksi manisan sebanyak 47 bungkus, dengan harga perbungkus Rp. 1.500,-
Kami berhasil menjual semua manisan kolang-kaling dengan memperoleh hasil sebesar Rp.70.500,-
Sehingga kami mendapatkan keuntungan sebesar (Rp. 70.500,- - Rp. 22.000,- = Rp. 48.500,- ) dengan masing-masing anak mendapat keuntungan sebesar ± Rp. 6.500,-
Sisa hasil penjualan sebesar Rp.500,-

BAB VI PENUTUP
KESIMPULAN
Manisan adalah salah satu bentuk makanan olahan yang banyak disukai oleh masyarakat. Rasanya yang manis bercampur dengan rasa khas buah sangat cocok untuk dinikmati diberbagai kesempatan. Manisan merupakan salah satu metode pengawetan produk buah-buahan yang paling tua, dan dalam pembuatannya menggunakan gula, dengan cara merendam dan memanaskan buah dalam madu. Ada tiga jenis manisan, yaitu manisan basah, manisan kering, dan acar. Satu jenis buah dapat dibuat menjadi manisan basah, atau manisan kering, atau keduanya.
Secara umum pembuatan manisan terdiri dari tahap pemotongan/penusuk-nusukan buah, perendaman, pencucian, perebusan, pemasakan dengan gula sampai penjemuran. Dalam proses pembuatan ini perlu diperhatikan bahwa Pada beberapa buah dilakukan pengupasan dan pemotongan terlebih dahulu, pada buah yang memiliki daging tebal juga dapat dilakukan pelubangan untuk membantu meresapkan larutan gula, Kapur sirih digunakan terutama untuk memberi rasa renyah pada manisan, Setelah direndam dalam air kapur sirih, cuci bersih buah agar rasanya tidak sepat.
Perbedaan dari manisan basah dan kering yaitu :  manisan basah kekuatan rasanya yang segar dapat dijadikan penawar haus disaat udara panas, dan cocok dinikmati di berbagai kesempatan. Kembali kepada selera konsumen namun keduanya memiliki potensi peluang pasar yang cukup menggiurkan sedangkan manisan basah memiliki bentuknya lebih menarik, lebih awet volume serta bobotnya menjadi lebih kecil sehingga mempermudah pengangkutan. Dalam kandungan zat kimia manisan terdapat  Natrium Benzoat, Natrium Metasulfit, Asam sitrat, dan lain-lain.
§  Manisan  adalah buah-buahan yang direndam dalam larutan gula selama beberapa waktu.
§  Pengawet yang digunakan dalam pembuatan manisan ini adalah gula.